Selamat Datang di Website Resmi Persekutuan Pemuda Pemudi Methodist Indonesia
Aku Kecewa Dan Meninggalkan Gerejaku, Tapi Satu Hal Membuatku Kembali



18 Juli 2016

Oleh Amy J.
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why I Hated The Youth Ministry

Setelah 6 tahun ada di Sekolah Minggu, aku merasa sudah tidak cocok lagi di sana. Menyanyi dengan bergaya yang aneh-aneh. Panggung boneka cerita Alkitab. Bahkan hadiah permen untuk menghafalkan ayat Alkitab mingguan sudah tidak menarik lagi buatku yang telah beranjak remaja.

Di sisi lain, komisi pemuda terlihat menarik. Beberapa kali, mereka datang untuk memimpin puji-pujian di kelas kami. Lagu-lagu yang mereka nyanyikan sangat hidup dan bersemangat; mereka berpakaian rapi dan bernyanyi dengan penuh semangat. Singkat kata, aku menganggap mereka sangat keren.

Namun ketika akhirnya aku cukup dewasa untuk bergabung dengan mereka, aku hanya butuh waktu 3 minggu untuk sampai pada sebuah kesimpulan: Aku membenci komisi pemuda.

Di minggu pertama, gadis-gadis yang duduk di belakangku saling “membisikkan” komentar-komentar yang merendahkan tentang gaya berpakaian dan gaya rambutku yang tomboi. Di minggu kedua, teman baikku punya pacar dan mengabaikanku. Di minggu ketiga, aku tidak sengaja mendengar beberapa pembina pemuda berdiskusi tentang bagaimana “menghadapi” diriku yang “hiperaktif”. Menurut mereka, aku “tidak cocok” di komisi pemuda. Aku terlalu berisik dan mengganggu untuk mereka.

Jadi aku pergi meninggalkan mereka semua.

Beberapa bulan kemudian, aku kehabisan alasan untuk tidak datang ke kebaktian pemuda. Daripada mendengar ocehan ibuku, aku mulai mengunjungi kebaktian di gereja-gereja lain yang waktunya mirip-mirip dengan gerejaku. Setidaknya aku tidak berbohong ketika aku mengatakan kepadanya bahwa aku pergi ke gereja. Dan aku berharap bahwa pada akhirnya aku menemukan satu gereja yang cocok denganku—di mana aku akan dikasihi dan diterima sebagaimana adanya diriku.

Hal ini berlangsung selama sekitar satu setengah tahun. Mengunjungi gereja baru, menemukan teman-teman baru, menemukan masalah-masalah—siklus ini seakan terus berulang. Siklus ini tidak hanya membuat aku lelah, tapi juga mempengaruhi imanku kepada Tuhan. Apa yang tadinya terasa baru dan menarik kemudian menjadi melelahkan—sampai kepada sebuah titik di mana aku mulai mempertimbangkan untuk meninggalkan imanku sepenuhnya.

Di saat inilah, ketika aku merasa ada di persimpangan, seorang pembina pemuda dari gereja asalku mengundangku untuk mengikuti sebuah kamp kepemimpinan Kristen. Dia telah mendengar dari seorang temanku tentang pergumulanku dalam perjalanan imanku dan penolakanku untuk kembali ke komunitas pemuda, maka dia tidak memaksaku. Yang dia lakukan adalah meyakinkanku bahwa kamp ini adalah kamp “eksternal” dan “interdenominasi”; hanya dua atau tiga orang lainnya dari gereja asalku yang mengikutinya. Awalnya aku menolak undangannya, namun kemudian aku memutuskan untuk mendaftarkan diriku setelah aku tahu bahwa beberapa teman-teman sekolahku juga mengikuti kamp itu.

Sejujurnya, aku tidak ingat lagi khotbah-khotbah yang disampaikan atau permainan-permainan yang dimainkan, namun ada satu sesi yang memberikan kesan yang begitu mendalam bagiku.

Pada malam kedua, ketika kami memasuki ruangan ibadah, kami terkejut ketika melihat panggung yang kosong dan banyak alat musik telah lenyap. Setelah menyanyi tiga lagu dengan hanya diiringi sebuah gitar, kami diminta untuk tetap diam, dan membayangkan bahwa kami ada sendirian di dalam ruangan itu bersama dengan Tuhan, dan membaca apapun ayat Alkitab yang ada di pikiran.

Ini membuat banyak dari kami menjadi bingung. Pertama, menyanyikan lagu-lagu dengan hanya diiringi sebuah gitar adalah sebuah hal yang tidak biasa kami lakukan. Selain itu, karena kami ada di sebuah tempat yang jauh dari kebisingan perkotaan, suasana menjadi sangat hening sampai-sampai kami dapat mendengar suara jarum yang jatuh. Keheningan ini membuatku tidak nyaman, dan setiap menit yang berlalu menjadi seakan satu jam.

Setelah sekitar setengah jam mencoba untuk tidak tertidur, angka “27” dan “4” tiba-tiba muncul di pikiranku. Aku tidak tahu kitab apa yang harus kubuka, jadi aku buka saja kitab Mazmur—tepat di tengah-tengah Alkitab.

Ini adalah ayat yang aku baca:

Satu hal telah kuminta kepada TUHAN,
itulah yang kuingini:
diam di rumah TUHAN seumur hidupku,
menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya.
(Mazmur 27:4)

Ketika aku membaca kata-kata itu, aku langsung merasa tertegur. Apa sebenarnya yang menjadi alasanku pergi ke gereja? Siapa yang aku ingin lihat? Siapa yang aku sembah? Apa yang sebenarnya aku cari?

Tanpa kusadari, air mata mulai menggenangi mataku. Aku langsung berdiri dan menghampiri pintu. Di luar, aku duduk dan menangis dengan lepas.

Malam itu, melalui kata-kata di dalam Mazmur 27:4, Tuhan membukakan kepadaku bahwa apa yang menjadi alasanku dahulu untuk menghadiri kebaktian pemuda adalah salah. Tidak peduli berapa banyak kebaktian pemuda yang berbeda yang aku kunjungi dan tidak peduli berapa banyak gereja yang aku coba, aku tidak akan pernah menemukan komunitas pemuda yang “sempurna”.

Pada malam yang sama, aku mengakui keegoisanku dan kesombonganku kepada pembina grupku di kamp tersebut. Aku juga meminta pengampunan Tuhan—untuk kepahitan yang aku miliki terhadap mereka yang mengkritik atau mengabaikanku. Seketika itu juga, aku merasa tenang dan damai bersama dengan Tuhan; itu adalah rasa damai yang sudah lama sekali aku tidak rasakan.

Momen tersebut mengajarkanku bahwa gereja ada bukan untuk melayani apa yang menjadi keinginanku. Jemaat mula-mula berkumpul untuk berdoa, memuji Tuhan, dan belajar firman Tuhan. Kita juga dipanggil untuk melakukan hal yang sama, sehingga kita bisa mengenal Tuhan dengan lebih baik, menyembah Dia, dan memberitakan tentang Dia.

Seminggu kemudian, aku kembali ke gereja asalku dan mulai melayani sebagai seorang pemimpin kelompok kecil di komisi pemuda. Aku sudah melayani di sana selama 15 tahun hingga sekarang … dan masih terus kulakukan.


Penulis :
Sumber : warungsatekamu.org

Dibaca : 4238 kali