Selamat Datang di Website Resmi Persekutuan Pemuda Pemudi Methodist Indonesia
Kejatuhan



30 Mei 2014

Mikha 7:8-9,18-20

7:8 Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.

7:9 Aku akan memikul kemarahan TUHAN, sebab aku telah berdosa kepada-Nya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilan-Nya.

7:18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia?

7:19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.

7:20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!

 

Selama bertahun-tahun setelah Masa Depresi Besar, pasar saham menemui kesulitan untuk mendapatkan kembali kepercayaan investor. Kemudian pada tahun 1952, Harry Markowitz menyarankan para investor untuk menyebarkan investasi mereka ke berbagai perusahaaan dan industri. Ia mengembangkan teori seleksi portofolio yang dapat membantu para investor di tengah masa-masa yang tidak menentu. Pada tahun 1990, Markowitz dan dua orang rekannya memenangi Penghargaan Nobel di Bidang Ilmu Ekonomi untuk teori mereka.

Seperti para investor yang gelisah di atas, kita sebagai pengikut Yesus juga mungkin merasa dicekam oleh ketakutan setelah hidup kita mengalami kejatuhan, dan tidak lagi yakin bagaimana kita dapat bangkit dan melanjutkan hidup kembali. Kita mungkin menghabiskan sisa hidup kita untuk menanti-nantikan “momen Markowitz”, yaitu suatu momen ketika tercetus ide atau tindakan cemerlang yang dapat membantu kita untuk bangkit dari kegagalan sebelumnya.

Kita lupa bahwa Yesus telah melakukan semuanya itu demi kita. Dia menutupi rasa malu kita, dan Dia membebaskan kita sehingga kita dapat bersekutu dengan Bapa dan melayani-Nya setiap hari. Karena Yesus telah memberikan nyawa-Nya, dan bangkit dari kematian, maka ketika kita “jatuh”, kita dapat “bangun” kembali bersama-Nya, karena Dia “berkenan kepada kasih setia” (Mi. 7:8,18).

Ketika kita menemukan Yesus, kekekalan kita bersama-Nya pun dimulai. Dia selalu menyertai kita agar Dia dapat mengubah kita menjadi pribadi yang kita rindukan dan yang sesuai dengan maksud kita diciptakan.

 

Ya Bapa, perbuatanku tidaklah cukup untuk bangkit dari
kegagalanku. Terima kasih Engkau telah memulihkan kami melalui
Anak-Mu, Yesus, yang menyerahkan diri-Nya bagi kami.
Tolong kami untuk bangkit kembali dan berjalan bersama-Mu.

 

Bangkitlah dari kegagalanmu, dan kamu akan melihat Allah yang siap untuk menerimamu kembali.


Penulis :
Sumber : warungsatekamu.org

Dibaca : 826 kali